Sabtu, 15 Juli 2006
Suplemen
Kreator Limbah Kayu
Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Edie Juandie, 47 tahun, memegang teguh prinsip ini. Usahanya yang jatuh dan kehilangan harta berharga tak membuatnya putus asa. Pantang menyerah, bungsu dari tujuh bersaudara ini bangkit dan memulai usaha baru. Sekarang ia menikmati keuletannya sebagai pengusaha karpet kayu Dipar (Diampar).
Sebelum berwiraswasta, Edie pernah bekerja di perusahaan milik kelompok Bakrie. Namun, ia dan saudaranya, Bambang Soekinoen, dan adiknya, Amas, keluar. Mereka berbisnis sendiri memasok alat-alat warung telekomunikasi. Usaha mereka sempat maju. Sampai akhirnya badai menghunjam. Mereka kalah tender pengadaan alat dan teknologi komunikasi di Bali pada 1997. Uang pinjaman sekitar Rp 1 miliar ludes dalam sekejap. Rumah dan barang-barang berharga lain yang dijaminkan juga ikut raib.
Kebangkrutan dan tagihan utang membayangi. Tapi mereka tidak lari dari masalah. Mereka memilih mendekatkan diri kepada Sang Mahakuasa. Selama proses perenungan, semangat Edie bangkit kembali. Pria humoris ini ingin memulai usaha baru. "Saya teringat teman yang memiliki usaha penggergajian. Saya manfaatkan saja limbahnya," katanya mengenang.
Pada awalnya, Edie dan Bambang membuat berbagai hiasan kayu, seperti gelas, tempat buah-buahan, asbak, teko, atau pot bunga. Bisnis ini tak berkembang. Namun, mereka tak menyerah dan terus berusaha. Sampai akhirnya, pada 2001, mereka bertemu dengan teman yang mempunyai usaha pembuatan parket (lantai kayu). "Saya berpikir, kenapa tidak memanfaatkan saja limbah parket jadi tikar kayu," kata Edie. Mereka pun mendirikan workshop karpet kayu Dipar.
Limbah parket dipotong kecil seukuran 6 x 3 sentimeter. Lalu dicat dan disusun seperti membuat tikar sebesar 2 x 2 meter. "Produk pertama kasar dan kurang rapi."
Tak puas produk perdana, bapak empat orang putri dan putra ini membuat lagi corak dan ukuran dari berbagai jenis kayu, seperti jati, sonokeling, kempos, pinus, ramin, dan karet. Warna kayu alami putih, cokelat, dan hitam kini mendominasi. Hasilnya semakin bagus dan lebih indah.
Untuk mengenalkannya kepada konsumen, Edie dan Bambang ikut pameran kerajinan yang digelar Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bogor medio 2001. Konsumen ternyata cukup menyukai karpet kayu itu. "Mungkin karena karpet kayu yang bisa dilipat barang langka," ujar Edie.
Edie dan Bambang terus mencoba peruntungan. Mereka memberanikan diri ikut pameran Inacraf internasional di Jakarta Hotel Convention Center, Jakarta, pada 2002. Hasilnya di luar dugaan. Banyak orang asing ingin membeli karpet kayu dalam berbagai ukuran: 1 x 1 meter, 1 x 2 meter, dan 3 x 3 meter. "Saya ingat ada orang asing berani membeli karpet ukuran besar seharga Rp 2 juta," kata Edie, "di situ saya semakin yakin usaha ini bisa berkembang."
Setelah beberapa kali ikut pameran kerajinan, bisnis Edie, Bambang, dan Amas semakin kinclong. Mereka pun semakin dikenal, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Mereka pernah diundang berpameran di Amerika Serikat.
Usaha mereka tak sia-sia dan terus maju. Setiap bulan ada pesanan karpet kayu seharga Rp 250-275 ribu per meter--bergantung pada jenis kayu dan motifnya. Konsumen dari Malaysia dan Amerika Serikat rutin memesannya. Bahkan ada juga pesanan dari Italia, Prancis, dan Belanda.
Omzet pun terus meningkat dari Rp 5 juta per bulan menjadi sekitar Rp 50 juta per bulan. Jumlah pegawai ditambah dari lima orang menjadi 30 orang. Workshop karpet kayu Dipar juga jadi berkah buat warga sekitar karena Edie menyewa jasa 25 orang tetangganya untuk mengerjakan satu karpet kayu per hari ukuran 1 x 2 meter.
Edie mengaku bukan satu-satunya perajin karpet kayu. Tapi perajin jenis ini tak banyak, hanya populer di Ketapang dan Pontianak, Kalimantan; Pandaan, Jawa Timur; Purbalingga; dan Bogor. Tak jelas siapa pelopornya. Yang pasti, kata penggemar seni ini, sesama perajin tidak saling meniru. "Masing-masing punya ciri khas dan keunikan," ujarnya.
Salah seorang konsumen, H Epi Helpian, memuji karpet kayu kreasi Workshop Dipar. Kepada Tempo, ia memperlihatkan karpet kayu ukuran 1 x 2 meter yang dibelinya seharga Rp 450 ribu dalam pameran hari ulang tahun Bogor. Ia senang punya karpet kayu karena pas dengan meja dan kursi ukiran. "Sudah lama saya mencari karpet kayu semacam ini. Karpet kayu lebih tahan lama dan alami. Coraknya juga pas," katanya.
Edie dan Bambang tak berhenti di sini. Mereka melebarkan sayap bisnis dan memproduksi puzzle kayu berbagai bentuk dan ukuran, seperti tetris, kubus, kristal urai, bola bentuk kristal dan oval, serta balok molekul.deffan purnama
koran