Minggu, 16 September 2007
Reportase
Kegalauan Dian Sastro
Keranjingan filsafat, ingin cantik luar-dalam.
SEHARI BERSAMA Dian Sastro
Rumah Dian Sastro, Pukul 08.00
Sinar matahari telah lama hadir di rumah Dian Sastro di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Tapi, Selasa pagi pekan lalu, Dian--sapaan gadis bernama komplet Diandra Paramita Sastrowardoyo itu--baru terjaga. Dian, yang baru pulang pukul dua dini hari dan tidur setengah jam kemudian, lupa mengatur alarm di telepon selulernya agar bisa bangun pukul enam pagi.
Karena telat bangun itulah agenda rutinnya menjalani latihan kebugaran pun jadi berantakan. Saban pagi biasanya Dian rutin lari di atas treadmill sekitar satu jam, dilanjutkan dengan peregangan. Setelah itu, ia membaca koran, mandi, lalu sarapan.
Namun, pagi itu, bangun tidur ia langsung ke kamar mandi. Seusai sarapan setangkup roti dan segelas susu, ia bergegas menuju mobilnya, Mercedes Seri C hitam metalik, yang telah menunggu di depan rumahnya. "Saya sedang magang asisten dosen," katanya saat kami meluncur di atas mobil yang disopiri Pak Yan menuju ke kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Menurut dia, sejak menulis skripsi, dia keranjingan belajar filsafat. Makanya, setelah lulus dari Jurusan Filsafat Universitas Indonesia pada Agustus lalu, setiap Senin dan Selasa ia magang sebagai asisten Tommy F. Awuy. Dian membantu bekas dosen pembimbing skripsinya itu mengajar mata kuliah epistemologi.
Dian lantas berkisah tentang perjuangannya menyelesaikan skripsinya. Di sela-sela kesibukannya sebagai model iklan, ia berjibaku menggarap skripsinya yang bertajuk "Beauty Industrial Complex: Sebuah Analisa Sosio Filosofis" itu sekitar enam bulan. Dan, demi skripsinya itu, ia sempat tak tidur tiga hari dan minum kopi minimal lima gelas sehari.
Makanya, Dian sangat bangga ketika skripsinya lolos sidang akhir. Dan kebanggaannya kian berlapis setelah skripsi yang mengupas soal kecantikan sebagai produk budaya itu dipuji-puji banyak dosen filsafat di kampusnya. "Aku kaget, ternyata aku juga bisa cerdas," ujar gadis kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982, itu semringah.
Sejenak Dian menghentikan perbincangan. Ia kemudian sibuk membaca pesan pendek yang mampir di ponselnya. Setelah mengubah posisi duduknya dari tegak menjadi lebih relaks, ia melanjutkan obrolan. Kali ini ia bercerita mengenai rumah tantenya, tempat dirinya tinggal sejak kanak-kanak hingga kini.
Dikatakannya, sebagai anak tunggal, tinggal bersama saudara-saudaranya di rumah tantenya itu membuatnya banyak belajar bersosialisasi. Bersama beberapa sepupunya, Dian kerap berlatih band di sebuah ruangan di rumah seluas sekitar 700 meter persegi itu. Lalu, hampir tiap hari ia juga biasa berdiskusi secara terbuka tentang segala hal dengan om-tantenya serta saudara-saudaranya. "Sangat menyenangkan," kata putri pasangan Ariawan Sastrowardoyo (almarhum) dan Dewi Parwati Setyorini itu.
Suasana terbuka keluarga tantenya itu mengisi batin Dian melewati hari-harinya. Saat kelas II SMP, ia meraih gelar juara lomba Gadis Sampul 1996. Keberhasilannya itu kemudian mengantarkannya menjadi model iklan sejumlah produk dan klip video. Itu pula yang mempertemukannya dengan dunia akting, saat ia main dalam film independen Bintang Jatuh arahan sutradara Rudi Soedjarwo.
Setelah membintangi film Pasir Berbisik dan Ada Apa dengan Cinta?, nama Dian melejit bak meteor. Lewat dua film itu ia diganjar sederet penghargaan dari berbagai ajang festival film, baik dalam maupun luar negeri. Dan sejak itu pula ia kebanjiran tawaran main film. Antara lain Ungu Violet, Banyu Biru, dan Belahan Jiwa. Terakhir, ia membintangi serial Dunia tanpa Koma, yang ditayangkan sebuah televisi swasta.
Matahari pagi kian tinggi ketika kami tiba di halaman gedung Pusat Studi Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Turun dari mobil, Dian bergegas menuju ruang 9306 di lantai tiga gedung. Selain menenteng enam buku filsafat yang tebal-tebal, ia juga membawa tas kain cokelat berisi barang-barang pribadinya, seperti ponsel dan buku agenda.
Begitu tiba di ruangan itu, Dian masuk ke ruangan dan langsung duduk di kursi deretan paling depan. Ia kemudian menyimak dan mencatat uraian yang disampaikan Tommy F. Awuy. Setelah perkuliahan berakhir satu jam kemudian, Dian dan Tommy lalu berjalan menuju ke ruang dosen jurusan filsafat.
Setelah berbincang dengan Tommy, Dian kemudian pamit. Sepanjang perjalanan menuju mobilnya di tempat parkir, ia ramah menyapa para dosen dan rekan-rekannya. "Kita ke toko buku QB Kemang, ya," katanya kepada sopirnya.
Toko Buku QB Kemang, Pukul 11.15
Sepanjang perjalanan menuju toko buku di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, itu ponselnya hampir tak pernah berhenti berdering. Dian menerima telepon dari teman-temannya. Dari urusan janjian bertemu untuk menonton bareng acara fashion show, rencana main film dengan Kepra, hingga pesanan gitar listrik.
Yang disebut terakhir memang paling banyak menyita kesehariannya kini. Dian bersama sejumlah rekannya tengah membentuk sebuah band. Selain piawai menabuh drum, Dian jago bermain gitar. Bahkan ia sempat menjadi vokalis saat masih ngeband bersama sepupunya di SMP.
Selain bermusik, saat sekolah di SMP dan SMA Dian juga punya hobi makan mi dan bakso. "Aku bisa setiap hari dalam seminggu makan mi," katanya tergelak. Tapi, setelah menjalani program kesehatan dan fitness, ia tak bisa lagi makan sembarangan, termasuk menyantap mi dan bakso.
Setiba di QB Kemang, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya, Dian bergegas ke rak buku-buku filsafat. Dikatakannya, ia sedang kesengsem oleh buku karangan filsuf Plato, Theaetetus and The Sophist.
Setelah membeli buku itu, Dian mengajak ke Casa Cafe. Di kafe yang menempati lantai dua toko buku Aksara, sekitar 200 meter dari QB, itu ia akan bertemu dengan Kepra dan manajernya, Wisnu Dharmawan, yang telah menunggunya.
Dian bersalaman dengan Kepra dan manajernya. Kepada pelayan, ia memesan sandwich dan jus stroberi sebagai menu makan siangnya. Tak lama berselang, ketiganya terlibat perbincangan tentang film yang akan digarap Kepra, dari karakter yang akan dimainkan Dian hingga calon lawan mainnya. Sesekali tawa mereka membuncah.
Siang itu suasana kafe tersebut kian ramai. Para pengunjung mulai mengalir. Di antara pengunjung yang datang tampak aktris Luna Maya, rekan Dian sesama bintang Lux. Begitu melihat Dian, Luna langsung menghampiri dan menyapanya akrab.
Dian, Kepra, dan manajernya kembali asyik berbincang. Hingga tanpa terasa hari telah merambah sore. Menurut Dian, seharusnya sore itu ia berlatih fitness. Tapi, karena jadwalnya sudah lewat, ia membatalkannya. Lalu ia mengajak kembali ke toko buku QB, memesan dua buku karangan filsuf Susan Sontag.
Dari QB, Dian kemudian meluncur ke salon Hair Code, yang hanya sepelemparan batu dari toko buku itu. Ia berencana akan menata rambutnya untuk acara peragaan busana karya Raoul di Hotel Four Seasons, Jakarta Selatan, pada pukul tujuh malam.
Salon Hair Code, Pukul 17.00
Saat rambutnya ditata, Dian mulai berbicara soal kepercayaan dirinya untuk selalu kritis pada suatu hal. Menurut dia, boleh jadi sikap itu terpupuk karena kegemarannya membaca macam-macam buku, dari sastra hingga filsafat, warisan ayah dan ibunya. Akibatnya, isi kepalanya senantiasa berpikir aneh-aneh, kerap mempertanyakan sesuatu seperti halnya seorang filsuf. "Kadang aku suka tertawa dan ngomong sendiri," katanya.
Itu juga yang membuatnya sulit bersosialisasi. Makanya ia kerap dianggap aneh. Dikatakannya, itu sempat membuatnya minder, terutama ketika ia naksir seorang teman cowoknya di SD. "Paling-paling aku cuma menumpahkannya lewat tulisan di buku harian atau bikin puisi," ujarnya mengenang.
Beruntung, ia kemudian tinggal bersama tantenya, yang terbuka dalam bersikap. Lewat keluarga tantenyalah ia banyak belajar cara bersosialisasi. Alhasil, saat menginjak SMA, Dian mulai terlatih bergaul. Dian pun tak lagi dijuluki "autis".
Boleh dibilang, Dian kemudian tumbuh sebagai "si kritis". Dan sikap kritisnya itu pula yang membuatnya ingin mendalami filsafat. Ia pun hengkang dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan kemudian masuk jurusan filsafat di kampus yang sama.
Lantas, apakah sikap kritisnya itu cuma euforia? "Nggaklah," katanya tegas. "Justru selama bekerja sebagai model dan aktrislah euforia saya," ia menjelaskan.
Yang pasti, sikap kritisnya itu justru membuatnya kini sedikit gamang dalam memilih calon pasangan. Dian khawatir pasangannya tak bisa memahami sikap dan isi kepalanya. "Aku sering nyuekin cowok karena asyik mikir sendiri," ujarnya terbahak hingga bahunya berguncang.
Hotel Four Seasons, Pukul 20.00
Seusai menata rambutnya, Dian memutuskan berdandan sendiri di rumahnya. Dian, yang memang pandai berdandan, tampak asyik memoleskan bedaknya. Hampir satu jam lebih ia mempercantik dirinya.
Beberapa saat kemudian Dian muncul dengan hasil dandanannya. Malam itu wajah ovalnya dipoles bedak sewajarnya. Bibirnya yang padat penuh disaput lipstik tipis-tipis. Toh, penampilan Dian yang bergaun hitam-hitam tampak menarik dan sungguh anggun.
Dalam perjalanan menuju Four Seasons di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, lagi-lagi telepon selulernya terus berdering. Teman-temannya sesama anggota Geng Cemong, sebutan kelompok Dian, telah menunggunya di sebuah restoran--juga di Kuningan.
Dian langsung mengiyakan ajakan rekan-rekan segengnya itu. Setelah menghadiri acara peragaan busananya Raoul, ia akan nongkrong bareng teman-temannya itu. Sesampai di hotel berbintang itu, ia disambut temannya, Didit.
Lalu Didit menggiring Dian untuk pemotretan red carpet. Yang terjadi, tak hanya fotografer acara yang memotretnya, tapi para wartawan dan sejumlah pengunjung juga mengabadikan cucu sastrawan sekaligus dokter Subagyo Sastrowardoyo itu.
Di ruang fashion show di Four Seasons, Dian tampak menikmati acara peragaan busana, yang diiringi alunan musik jazz. Sambil minum segelas Martini, ia terlihat akrab mengobrol dengan sejumlah rekan-rekannya, yang datang dari berbagai kalangan.
Namun, seusai acara malam itu, Dian batal bertemu dengan teman-temannya. Dia menyayangkan hal itu. Apalagi, menurut dia, sejak ia sibuk membuat skripsi, rekan-rekannya itu kerap diabaikan. Padahal dulu ia sering nongkrong bareng mereka di kafe-kafe di Kemang dan pusat kota. "Sekarang sudah jarang banget berkumpul lagi."
Tapi, karena sudah terlalu malam, teman-temannya juga sudah bubar. Maka Dian memutuskan memenuhi janji berikutnya menemui seorang teman dekatnya di sebuah plaza. "Wah, sayang banget batal lagi ketemuan sama teman-teman segeng," katanya.YOPHIANDI
koran