Lebih Segar Saat Ramadan
Bosan bergaya dengan gamis, tunik, ataupun kebaya yang penuh dengan payet, bordiran, maupun manik-manik selama Ramadan? Bagaimana bila Anda menjajal busana muslim putih yang idenya dicuplik dari gaun perempuan Inggris era 1970-an karya Merry Pramono?
Dengan busana serba putih, kesucian bulan ini tetap tecermin. Sedangkan dengan gaya Eropa, tampilan pun semakin ciamik. Kreasi Merry itu muncul dalam peragaan busana karya para perancang yang tergabung dalam Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Menyambut Ramadan dan Idul Fitri, mereka menggelar kreasi terbaru dalam satu tema, "Sutra Ramadan", di Cascade Lounge Hotel Mulia, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ada 10 perancang yang ambil bagian. Mereka berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Busana muslim yang disajikan lebih variatif, tidak lagi mengacu pada model busana muslim yang melekat selama ini. Tampilan perempuan muslim pun lebih segar dan berwarna.
Bila ingin muncul dalam gaya lebih feminin, Anda bisa menengok kreasi Jeny Tjahyawati, yang memunculkan siluet busana era 1960-an. Menggunakan bahan katun bermotif floral dan warna natural, busana muslim terlihat cantik dalam potongan tunik, gamis siluet ramping, maupun jas panjang. Aksen renda hadir sebagai pemanis.
Gaya busana muslim yang lebih dinamis ditampilkan Hanni Hananto. Meski detail busana minimalis, teknik lipit dalam palet klasik membuat busana terlihat ringan dan lebih modern. Busana dinamis dengan warna-warna muda ditampilkan oleh anggota APPMI dari Sumatera Barat, Ade Listiyani. Sedangkan Raizal Rais mempersembahkan koleksi bercorak retro dalam warna ceria pada gaya busana muslim urban Timur Tengah.
Tak kalah unik dan berwarna kreasi desainer dari Jawa Barat, Nuniek Mawardi, yang mengusung tema "ExoPlayism". Terinspirasi oleh keindahan tenun ikat NTT dan warna warna fantastis lukisan Mesir kuno, Nuniek menampilkan busana dalam warna-warna cerah, seperti paduan tosca, hijau, ungu, biru, dan oranye, pada tunik selutut dipadu legging rajutan. Ia membuat koleksi untuk segala umur--anak-anak, remaja, hingga dewasa. "Saya memang ingin menampilkan busana yang dinamis tapi nggak berlebihan, namun tidak minimalis juga," ujarnya.
Perancang dari Jawa Timur, Lia Afif, yang berniat menampilkan gaya baru, menghadirkan ragam hias tato dan permainan unsur garis serta potongan tegas. Perancang lain yang menyemarakkan acara tersebut antara lain Ani Medina, Toera Imara, dan Herman Nuary.
Ketua Umum APPMI Taruna K. Kusmayadi mengatakan acara tersebut diharapkan dapat membuktikan kepada publik bahwa busana muslim di Indonesia berkembang cukup pesat. "Sekitar 1970-an busana muslim memiliki stereotip negatif dan dianggap kampungan. Sekarang busana muslim justru menjadi gaya hidup wanita Indonesia," katanya. S IKA SARI