Bunga Korea di Lapangan Golf
Di lapangan tenis, gadis-gadis Serbia adalah ratunya. Tapi di lapangan golf, dara-dara Korea Selatan adalah kembangnya. Tahun ini dara-dara Korea Selatan memang meramaikan padang golf dalam seri kejuaraan dunia profesional wanita, LPGA Tour. Ada 45 pegolf dari Korea Selatan yang mengikuti kompetisi 2008. Dua di antaranya yang menonjol karena berhasil memenangi turnamen besar adalah Inbee Park dan Ji-Yai Shin.
Shin, 20 tahun, misalnya, mencuat musim ini berkat keberhasilannya memenangi British Open pada Agustus lalu. "Semua orang tahu aku adalah juara British Open," kata Shin bungah.
"Di Korea, para pemain biasa bilang: 'Jangan pulang lagi ke Korea. Mainlah terus di Amerika,'" kata dara yang mulai bermain golf pada usia 11 tahun tersebut. Itulah rupanya yang melahirkan para bintang.
Se Ri Pak adalah orang yang membuat wanita pegolf wanita di Korea Selatan sekarang selalu berkiblat pada Amerika. Maklum, di Negeri Abang Sam itu, Pak berhasil meraih peringkat kelima dunia pada usia 23 tahun. "Jadi saya akan mewujudkan keinginan mereka bermain di Amerika karena itu juga impian saya sejak dulu," ujar Shin, yang telah mengoleksi 22 trofi juara sepanjang kariernya.
Pekan lalu, Shin membuat kejutan pada hari pertama Samsung World Championship di Half Moon Bay, California, Amerika. Ia memimpin dengan mencatatkan pukulan 5 di bawah par 67. Saat itu ia mengungguli para pegolf papan atas, termasuk pemain nomor satu dunia dan dua kali juara Samsung, Lorena Ochoa, dan juara lima kali, Annika Sorenstam.
Meskipun gagal memenangi kejuaraan dunia tersebut, Shin sudah masuk 20 besar pegolf wanita dunia. Ia masuk jajaran pemain termuda yang mampu menembus LPGA Tour.
Golf adalah babak baru dalam kehidupan olahraga para wanita Korea. Sebelumnya, mereka lebih dikenal, antara lain, di cabang panahan. Shin juga mengawali kegemarannya berolahraga dengan mempelajari panahan, tapi hanya sebentar, dan kemudian beralih ke golf.
Saat tengah asyik berlatih empat tahun, Shin mendapat kabar duka. Ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil. Sedangkan adik perempuan dan lelakinya selamat, tapi harus menjalani perawatan intensif setahun di rumah sakit. Tak mengherankan jika kini Shin mendedikasikan setiap keberhasilannya untuk mendiang ibunya. "Saya merasa lebih kuat sejak kejadian itu dan berhasil menjadi pegolf pro," katanya.
Keperkasaan Shin mulai terlihat pada 2005 setelah ia menjadi satu-satunya pegolf amatir yang mampu memenangi seri LPGA di negaranya dan akhir tahun itu ia beralih ke pro.
Sampai 2007, ia lebih sering jadi finalis daripada juara. Tak aneh kalau ia juga punya julukan Final Queen. "Saya biasanya selalu sukses masuk ke final tanpa bisa memenanginya. Jadi banyak orang menjuluki saya seperti itu," katanya. AFP | LPGA | EZTHER LASTANIA