Menikmati Musim Panas Di Longwood Garden
Longwood Garden, musimpanas, akhir Agustus tahunlalu. Taman di Kota Phila-delphia itulah yang hendaksaya sambangi ketika sayaberkunjung ke Amerika Serikat.Saya ingin menikmati pengalamanistimewa di taman yang istimewayang jadi kebanggaan orang Ameri-ka itu. Saya ingin menyaksikan bu-nga-bunga yang bermekaran se-panjang tahun, tanpa mengenal em-pat musim.
Berada di antara New York dan Washington, Philadelphia adalahkota terbesar di Negara BagianPennsylvania. Terletak pada pertemuan Sungai Delaware dan Schu-ylkill, kota itu dikenang sebagai"The Cradle of America" karena rangkaian sejarah kemerdekaan ne-geri adikuasa itu terjadi di kota ini.Beberapa museum dan peninggalanbersejarah menjadi obyek wisata.
Salah satu daya tarik kota cantikini adalah Longwood Garden. Ber-tetangga dekat dengan KennethSquare yang bersejarah, Longwoodyang berpayung ratusan pohon rak-sasa ini memiliki panorama alamyang luar biasa.
Hari masih pagi, pukul 08.15waktu setempat. Dari rumah BettyGarfield di wilayah Queens NewYork, saya meluncur ke arah sela-tan, menuju Philadelphia, sejauh160 kilometer. Bersama sopir taksiyang dipilihkan Betty--kawan lamayang menyediakan tempat meng-inap--perjalanan saya terasa nya-man
Taksi yang saya tumpangi terusmelaju pada pagi yang masih sepiitu. Sebelum sampai Longwood,Freddie Zimmitti, sopir taksi ketu-runan Italia, sempat mengantar sa-ya ke pusat keramaian di muara Su-ngai Delaware. Sopir kocak yangwajahnya mirip penyanyi pada1990-an, Billy Joel, itu mengarah-kan langkah saya menuju bentang-an sungai yang ditandai dengan na-ma Penn's Landing. Kata Freddie,di situlah pendiri Kota Philadel-phia, William Penn, dari Inggrisberlabuh untuk pertama kali pada 1682.
Melanjutkan perjalanan, Freddiemenyimak cerita saya mengenai ke-gemaran saya pada keindahanalam. Matanya berkejap-kejap se-waktu saya bercerita pernah berkunjung ke Taman Villa d'Este, de-kat Danau Como, Italia. Percakap-an semakin seru sewaktu saya me-ngenang Luxembourg Jardin di Pa-ris, juga kunjungan saya ke KirstenBosch di Cape Town, Afrika Sela-tan, yang punya wilayah khusus un-tuk pengunjung tunanetra.
Mobil meluncur ke jantung kota.Freddie sengaja mengurangi kece-patan agar saya dapat menyimak keterangannya sepanjang perjalan-an menuju taman kota. "Gedung iniadalah City Hall, dan di puncakatap itu Anda bisa melihat patungWilliam Penn," ujarnya.
Saya melongok dari jendela mo-bil dan melihat patung perunggupenemu wilayah ini, setinggi sekitar1,67 meter.
Selain kota penuh sejarah, ada90 museum dan 8 universitas terke-muka di sini," tutur Freddie, dengan nada New Yorker yang kental.
"Itukah Longwood Garden?" ta-nya saya penasaran sewaktu melihat dari kejauhan rimba di tengahkota. Pohon-pohon raksasa, dililitbunga menjalar warna-warni,mengisyaratkan bahwa taman itumemiliki kondisi alam yang menye-nangkan.
Freddie menghentikan taksi, ber-gegas membukakan pintu, tapi ia menahan langkah saya. "Siapa ak-tor utama film Pretty Woman?" ta-nya sopir yang mengaku jebolan sa-lah satu universitas di kota itu.
"Richard Gere," jawab saya."Pemeran seorang bapak dalamfilm serial keluarga Amerika yang berprofesi sebagai dokter kandungan?"
"Bill Cosby."
"Satu lagi, Madame, nama istriPangeran Rainier dari Monaco?"
"Grace Kelly." Kali ini saya berteriak.
Sebuah kejutan bagi saya.
"Karena Anda dapat menjawab pertanyaan itu, karcis masuk saya traktir.
Saya terdiam sejenak. US$ 17?Dia yang belikan? Saya ragu tapi te-tap mengikuti langkahnya menujupintu gerbang. Freddie tidak ber-canda. Di bawah gerbang meleng-kung yang sarat dijalari bunga ge-ranium merah saga dipadu petuniaseputih salju itu, Freddie menyodorkan tiket.
Setelah menjabat tangan saya, ia membiarkan saya masuk sendiri dan menghilang di balik semak rhodo dendron merah jambu. Saya melangkah memasuki pintu gerbangteduh, berselimut bunga Piedmontazalea berwarna shocking pink dan Flowering Longwood putih yang menyebarkan aroma campuran kembang melati dan gardenia.
Bertambah jauh saya menelusuritaman yang terawat rapi ini, ber-tambah kagum saya dibuatnya. Ditaman itu, ada banyak tempat yangmenarik dikunjungi. Beberapa ru-mah kaca untuk koleksi anggrek,krisan, tanaman tropis, kaktus,tulip, palem, pakis-pakisan, kolamteratai, taman pohon pangkas, ko-lam air mancur, rumah Pierre duPont; semua menggugah rasa pena-saran. Mengingat kemampuan kakiyang terbatas, saya memutuskanmemilih beberapa tempat saja.
Longwood Garden, seluas sekitar 140 hektare dengan 300 petugas la-pangan, tak bisa dilepaskan darinama Pierre S. du Pont. Sebab, ta-man ini merupakan warisan berharga dari miliarder asal Prancis itu. Du Pont dikenang sebagai pengusaha sukses dalam pengelolaan pabrik tepung yang amat memuja keindahan dan kelestarian alam.
Pada 1905, Du Pont membuka lahan untuk kompleks bangunan pabrik tepungnya di kawasan Brandy Wine, Long Wood, Pennsylvania. Ia berkukuh melarang buldoser yang akan meratakan lahan yang berdekatan dengan gedung pabriknya itu. Ia jatuh hati pada "rimba" kecil yang penuh dengan pepohonan berukuran raksasa dan semak-semak bunga aneka warna.
Usut punya usut, rimba terbengkalai itu milik keluarga George Pierce, imigran asal Inggris. Ia membelinya dari William Penn (pendiri kota ini) pada 1700. Tanah warisan George Pierce ini akhirnya jatuh ke tangan cucu kembarnya, Joshua dan Samuel Pierce. Pada 1798, mereka berdua menanami lahan sekitar rumah dengan ratusan pohon majestica.
Lima puluh tahun kemudian, berkat ketelatenan mereka, dengan pohon- pohon pelindung dan kaveling bunga warna-warni, rimba kecil itu menjelma menjadi taman rekreasi untuk umum yang tertata rapi. Namun, akhirnya taman cantik ini terbengkalai sampai Du Pont membelinya pada 1906. Lalu Du Pont mendesain lanskap lahan itu dengan cermat dan dengan cita rasa tinggi. Ia bercita-cita agar rimba cantik itu dari waktu ke waktu menjelma menjadi ajang gaul relasi bisnisnya.
Seperti yang saya lihat sewaktu memasuki gerbang Italian Water Garden, gaya penataan lengkap dengan water basin dan air mancurnya mengingatkan saya pada panorama taman-taman di Villa Gamberaia dekat Kota Florence, Italia. Rumput menghijau di sela-sela basin dan latar belakang pergola yang dililit rapat oleh kembang Alpine forget me not berwarna biru benhur, sementara snow butter cup, yang bernuansa kuning kemilau, bersembulan sepanjang pergola setengah lingkaran.
Dari jarak 2 meter, saya menghirup aroma khas kembang mawar. Rose Garden menyambut saya dengan hamparan bunga warna merah anggur, putih, merah jambu, dan kuning. Semuanya terdiri atas mawar merekah. Bisa jadi Du Pont terilhami oleh permadani mawar milik Cleopatra di waktu menyambut kedatangan kekasihnya, Marck Anthony.
Main Fountain Garden yang ada di sisi utara merupakan perpaduan taman Inggris dan Prancis. Pahatan batu berbentuk kepala demon dan singa tampak di seputar air mancur. Tercatat 200 pompa air mendukung kelangsungan air muncrat yang mempesona itu. Percikannya mengembun di permukaan wajah saya.
Bunga-bunga liar warna-warni yang hanya tumbuh di kawasan prairie, seperti smooth aster ungu, blinking star merah cabai, dan prairie wild rose yang mirip kancing manik- manik oranye, tumbuh di selasela batu alam yang ditata secara alami. Penataan itu pasti dipelajari dengan teliti, memindahkan ekologi, agar tumbuh senang di sana.
Flower Garden Walk yang berpagar bunga tulip menuju kawasan danau alam yang bersembunyi dalam kepungan pohon berukuran raksasa. Jalan lengang beralas batu gunung itu dipagari oleh rumpun kembang begonia yang sarat berbunga. Sementara itu, batang-batang menjulang dari kembang morning glory ungu bersembulan di sana-sini. Serasa berada di negeri mimpi!
Meninggalkan danau tenang dengan pantulan rimba pepohonan di permukaannya, panah penunjuk arah menuntun saya menemukan kolam-kolam buatan yang penuh dengan kembang teratai jenis Victoria yang rajin berbunga dengan daun sebundar nyiru (diameter 1,5 meter), yang menarik perhatian para pengunjung. Jenis mungil berwarna putih, ungu, dan kuning mewakili spesies Nyamphaea colorata, yang menggemaskan kerumunan wisatawan yang melintas.
Tempat terakhir kunjungan saya ke taman itu adalah Peirce Du Pont House, yang bentuk arsitekturnya ala Quaker, dibangun pada 1730. Halaman rumah tua itu dipayungi puluhan pohon raksasa, antara lain Cinna monu camphorium (sejenis pohon kamper dari Cina) dan Ficus macrophylla (sejenis pohon karet dari Australia). Ruang kerjanya masih ditata sebagaimana aslinya. Bendabenda pribadi tergeletak di meja kerja. Tiga bingkai kacamata dan sebuah buku tentang flora ada di sana.
Freddie sempat bercerita bahwa setiap Sabtu, pada musim panas, ada pementasan Philadelphia Orchestra. Beruntung kunjungan saya itu pada saat diadakan pementasan, yang diselenggarakan di alam terbuka, dibatasi dua kelompok Topiary Garden yang rapi terpangkas. Panggung luas itu menjadi tempat pertunjukan para pemusik orkes yang terkenal. Berkostum merah cerah, tampak kontras di antara kehijauan pohon sekitar.
Sayup-sayup irama instrumentalia lagu Summer Time sampai ke telinga saya. Serasa menyihir saya segera mendekati panggung. Saya pun terbuai oleh permainan gesek para pemusik.
Matahari musim panas perlahanlahan bersembunyi di angkasa biru. Perut yang keroncongan dengan spontan menerima jejalan hoagies-- sandwich khas favorit Philly, terdiri atas empat lapis roti irisan tebal dan besar. Saya terpaksa membuka mulut lebar-lebar sewaktu melahap sandwich berukuran maxi ini.
Freddie dan mobilnya sudah menanti di ujung Elfreth's Alley di pusat kota. Saya menyusuri jalan tertua di Amerika, yang dibangun pada 1703, dengan perasaan sentimental. Saya mesti melanjutkan perjalanan menuju Washington untuk menghadiri pesta pertunangan putri kawan saya yang bermukim di kota itu.
Dalam perjalanan, saya mengintip bulan di langit Philadelphia. Sinarnya yang keperakan membias tepat di topi William Penn yang bertengger di puncak atap City Hall.
YATIE ASFAN LUBIS, PENIKMAT PERJALANAN, TINGGAL DI JAKARTA