Sehari Bersama

Erros Djarot
Dengan Bisnis yang Lurus Juga Bisa Kaya

Erros Djarot menjalani tiga bidang kehidupan sekaligus: seni, politik, dan bisnis. Di bidang seni ia menabalkan namanya sebagai lirikus kawakan. Kolaborasinya dengan Yockie Suryoprayogo sebagai penggubah lagu, dan Chrisye sebagai penyanyi, sudah menjadi khazanah tersendiri dalam kekayaan musik pop Indonesia. Kerja sama ketiganya dalam Badai Pasti Berlalu yang legendaris itu hampir tak tertandingi bahkan sampai sekarang.

Pertengahan Agustus lalu, pengagum Soekarno itu meraih penghargaan tertinggi untuk film semidokumenter tentang konser kelompok musik Kantata Takwa yang digarapnya bersama Gotot Prakosa.

Di bidang politik, khalayak mengenalnya sebagai pendiri Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan (PNBK). Erros bukan orang baru di partai. Ia sebelumnya telah bergiat di Partai Demokrasi Indonesia sejak partai itu dipimpin oleh Soerjadi. Pada 1986, ia keluar karena tak cocok dengan Soerjadi.

Dari PDI ia pindah ke PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarno Putri. Namun, di partai yang menjadikan dia sebagai salah satu fungsionaris itu, dia tak betah karena menilai gerak Partai Moncong Putih sudah tidak sesuai dengan cita-cita awal.

Tak banyak yang tahu Erros juga pebisnis. Apa bisnisnya? "Pokoknya halal," ujarnya. Tempo mengikuti sehari aktivitas lelaki yang bernama asli Sugeng Waluyo Djarot itu, Selasa tiga pekan lalu, ketika Ramadan belum meninggalkan almanak.

Pukul 10.00
Kantor PNBK
Jalan Penjernihan, Jakarta Pusat

Erros Djarot menyapa Tempo sesaat setelah keluar dari Camry hitam metaliknya. Ia mengaku baru saja kembali dari Studio Aquarius di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, untuk proses mastering album rohani terbarunya. Album berjudul Karena Cinta Kita Ada itu akan segera diluncurkan. "Cinta itu mempunyai kekuatan yang luar biasa," ujar lelaki kelahiran Banten, 22 Juli 1955, itu sesaat setelah memasuki ruang kerjanya.

Setelah menanggalkan jaketnya di kursi dan mempersilakan Tempo memilih tempat duduk di ruang kerja berukuran separuh lapangan bulu tangkis itu, ia membuka laci, mencari album lagu yang baru saja rampung digarapnya. Sekitar 10 menit ia memperdengarkan lagu-lagunya kepada Tempo. Salah satu lagu dinyanyikannya berduet dengan penyanyi Berlian Hutauruk yang kondang pada 1980-an.

Meja kerja Erros berhiaskan Semar, tokoh pewayangan. Adik aktor senior Slamet Rahardjo Djarot ini mengaku sangat mengagumi pengasuh para ksatria Pandawa dalam kisah Mahabarata itu.

Semar adalah jelmaan Dewa Ismaya, putra sulung Sang Hyang Wenang, penguasa Sawarga Maniloka. Diceritakan, Semar menyamar sebagai lurah di Kudapawana, wilayah kerajaan Madukara. Sebagai penjelmaan dewa yang bisa diartikan sebagai pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, menurut pendiri PNBK itu, Semar memiliki jiwa kepemimpinan yang matang. Tak hanya mengayomi anak-anak asuhnya, Pandawa, tapi juga rakyat jelata. "Dia (Semar) sosok pemimpin sejati," kata Erros sambil menunjuk wayang kulit berwujud Semar itu.

Di samping Semar tergeletak parfum Giorgio Armani. Erros pencinta wewangian itu? Ternyata itu bukan favoritnya. Ia mengaku tidak fanatik pada parfum tertentu, tak pilih-pilih merek. "Sak kecandake (sekenanya)," katanya.

Selain Semar, ada juga Hanoman si kera putih. Seperti juga sikapnya pada Armani, Hanoman bukanlah favoritnya. Ia mendapatkan si kera putih sebagai penghargaan dari Golden Hanoman Award dalam ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2008 di Yogyakarta, Agustus lalu, untuk film semidokumenter Kantata Takwa yang digarapnya bersama Gotot Prakosa.

Film berdurasi 72 menit itu juga mendapatkan penghargaan Geber Award. Geber diberikan untuk penghargaan film terbaik pilihan komunitas pembuat film dan penggemar film/kineklub di Yogyakarta. Tak hanya merekam potongan-potongan momen terpenting konser, film itu juga dianggap berhasil merekam energi konser yang didukung para legenda musik Indonesia yang tergabung dalam Kantata Takwa.

Kantata yang kondang pada 1980-an menyatukan para legenda musik, di antaranya Iwan Fals, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, Donny Fatah, Embong Rahardjo, Totok Tewel, Innisisri, dan didukung penyair W.S. Rendra serta maesenas Setiawan Djody. "Saya tidak menyangka film Kantata Takwa akan mendapatkan penghargaan ini," kata Erros.

Sebetulnya, penghargaan bukanlah hal baru bagi Erros yang meraih Piala Citra sebagai penata musik di film Kawin Lari (1976), Badai Pasti Berlalu (1978), dan Usia 18 (1981). Lelaki yang mempelajari film di Inggris itu juga menata musik untuk Secangkir Kopi Pahit (1986), dan Ponirah Terpidana (1984), selain menulis skenario film Marsinah (2001).

Sebenarnya, musik dan film cuma sebagian dari hidupnya, karena ia sebenarnya menekuni tiga bidang sekaligus: seni, bisnis, serta politik. Bekas aktivis Gerakan Siswa Nasional Indonesia--underbow Partai Nasionalis Indonesia--ini mengaku menjalankan beberapa bisnis untuk menggelembungkan pundi-pundinya. Dia menolak menyebutkan berbisnis apa. "Pokoknya, semuanya halal," katanya.

Dalam berbisnis, kata Erros, dia lebih suka menjadi perancang, bukan duduk dalam jabatan struktural. Kenapa? "Saya tidak pandai menipu," katanya lugas. Menurut dia, seorang pebisnis harus bisa menjilat pejabat, menyikut kanan-kiri, bisa berbohong, termasuk bisa memanipulasi pajak. "Padahal, dengan bisnis yang bersih dan lurus kita juga bisa kaya, tapi memang waktunya lama," ujarnya.

Meski Erros berbisnis, ia tak lantas setuju membisniskan apa saja. Mengotori kebudayaan demi uang, misalnya, pantang baginya. Menurut dia, perkembangan kebudayaan Indonesia kini sudah banyak dikotori oleh kepentingan uang. Salah satunya melalui tayangan sinetron. Menurut dia, tema remaja yang kerap disajikan sinetron tidak mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia yang nyata. "Tata bahasa kita dihancurkan sinetron," ujar lelaki yang terlibat dalam pembentukan Persatuan Muslim Eropa itu dengan nada tinggi. Sedangkan pemerintah, kata dia, kurang peduli pada soal ini.

Menjelang tengah hari, Erros meninggalkan kantornya. Kali ini dia diantar sopir. Selama perjalanan dengan mobil, mantan pemimpin redaksi tabloid Detik itu tidak mengenakan sabuk pengaman. Erros sibuk dengan telepon genggamnya. Dia menghubungi aktris Marcella Zalianty, produser sekaligus pemain film Lastri yang disutradarai Erros.

Pukul 12.00
Gedung Central Cikini
Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat

Erros langsung menuju lantai 3 gedung berwujud rumah kantor itu. Marcella dan beberapa kru film Lastri telah menanti.

Skenario film berlatar belakang kehidupan 1965 pascatragedi Gerakan 30 September itu ditulis Erros sendiri. Film itu bercerita tentang cinta yang tidak bisa disatukan dalam ikatan perkawinan. Dikisahkan, Lastri dan Ronggo dua aktivis CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa), underbow Partai Komunis Indonesia, yang terjerat asmara. Mereka terpisah, tak bisa menikah, lantaran dikejar-kejar Tentara Nasional Indonesia yang ditugasi memberantas PKI dan antek-anteknya.

Mengira Ronggo telah tertangkap dan dibunuh, Lastri menikah dengan perwira TNI agar selamat dari pengejaran. "Intinya, film ini berkisah tentang kekuatan cinta," katanya.

Lastri, menurut Eros, bisa berarti Lastri sebagai gadis aktivis CGMI, bisa juga dibaca sebagai Last RI, "Maksudnya, apabila kita tidak bisa menjaga persatuan, maka inilah akhir dari RI." Erros yang mengaku Soekarnois pasca-G-30-September itu mengaku tidak sembarangan membuat film. Dia tidak ingin film yang dibikinnya justru membodohi masyarakat.

Semua peralatan telah siap. Eros melihat rekaman lokasi yang dipilih untuk syuting. Perkampungan di Klaten, Boyolali, terpilih sebagai lokasi karena masih banyak terdapat bangunan tua dengan arsitektur bergaya 1960-an.

Selesai melihat rekaman lokasi syuting, Eros melatih Marcella dan pemain Lastri. Dengan telaten ia mengarahkan akting, ekspresi, dan intonasi pemain.

Erros berpendapat, kelebihan film dibanding teater ada pada ruang dan waktu. Dalam film, kata merupakan senjata. Ekspresi adalah alat bantu agar pesan yang ingin disampaikan tepat sasaran, sehingga keindahan bertutur sangat diperlukan saat bermain di film.

Perbedaan bertutur dalam teater dan film terletak pada nada bicara pemain. Dalam teater pemainnya harus berbicara dengan nada keras. Sedangkan di film, nada yang pelan saja sudah terdengar. "Celakanya, sering kali teater langsung diaplikasikan ke film dengan paradigma yang sama."

Eros memuji akting Meryl Streep dalam film musikal Mamma Mia yang, menurut dia, penuh penghayatan. Sebagai referensi, dia berencana mengajak kru film Lastri menonton film itu.

Pukul 18.00

Saat azan magrib terdengar, latihan dihentikan Erros. Martabak manis, martabak telur, aneka makanan gorengan, es kelapa muda, dan teh hangat menjadi menu buka puasa kru film Lastri. Erros memilih teh panas dan martabak telur untuk berbuka puasa.

Satu per satu pemain meninggalkan tempat latihan. Hanya Erros dan Marcella yang belum beranjak. Keduanya membahas pemain yang akan berperan sebagai ibu Lastri dan Juminten, seorang ibu yang menampung Lastri selama pelarian.

Lima belas menit kemudian, Marcella mengajak ke Plaza FX untuk makan malam sekaligus menghadiri undangan pemutaran perdana film Laskar Pelangi, garapan Riri Riza.

Dalam perjalanan menuruni anak tangga, Erros dan Marcella membahas kostum untuk syuting, khususnya seragam pasukan Kostrad yang ditugasi Soeharto, Komandan Kostrad ketika itu, untuk menumpas Partai Komunis Indonesia yang diduga mendalangi Gerakan 30 September.

Eros dan Marcella berangkat ke FX Plaza dengan mobil masing-masing.

Pukul 19.00
Plaza FX
Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan

Erros kebingungan di lobi Plaza FX. "Saya jarang ke tempat seperti ini." Karena itu, ia memutuskan menunggu Marcella di lobi. Lima menit kemudian, Marcella tiba. Peraih Piala Citra sebagai Aktris Terbaik FFI 2006 itu mengajak ke restoran Foodism di lantai 7. Mereka duduk di dalam restoran. Atas saran Marcella, Erros memilih spageti dan teh manis untuk makan malam.

Eros yang pernah belajar di Jurusan Teknik Industri Koln Fachhochschule, Jerman Barat, dan Aben Schule (Sekolah Sore) tentang sosiologi dan politik itu mengaku tidak biasa makan makanan restoran. Ayah dua anak itu lebih suka makan di warung kaki lima di pinggir jalan. "Bagi saya makan sate atau nasi goreng di pinggir jalan lebih terasa nikmat," ujar ayah aktor Banyu Biru itu. Baginya, tidak ada pantangan soal makanan.

Sambil bersantap, Erros dan Marcella kembali membahas proses produksi Lastri. Mereka memerlukan pemeran yang bisa bertutur dalam bahasa Jawa krama serta soundtrack filmnya.

Selesai makan malam, tampak rombongan Sultan Hamengku Buwono X. Erros pun mendekati dan menyapa rombongan Gubernur Yogyakarta yang duduk di beranda restoran.

Tiga puluh menit kemudian, mereka menuju Studio Platinum XXI di lantai yang sama, tempat diputarnya film Laskar Pelangi. Lagi-lagi, Erros mengaku tidak biasa menonton film di plaza. Kalau ia melakukannya, "Ini karena saya menghormati Riri Riza, junior saya."

Pukul 22.00
Studio Platinum XXI

Erros dan Marcella memilih deretan kursi di sebelah kanan baris ketiga dari depan. Dengan saksama Erros menonton film yang diangkat dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata itu. Film belum usai ketika Erros beranjak dari kursinya, pulang. "Saya harus menjalani pemotretan untuk poster kampanye," katanya. ERWIN DARIYANTO

TempoInteraktif

Kesehatan
Menyitir Faedah Detoks
-----------------
Oops
Calon Istri Digugat Karena Putuskan Tunangan Via SMS
-----------------
Panggung
Nada Puisi Ananda Sukarlan
-----------------
Sepakbola
Totti Mengidolakan Beckham
-----------------
Sepakbola
Pemilik Manchester City Geser Roman Abramovich
-----------------
Jakarta
Ryan Kembali Disidang Hari Ini
-----------------
Timteng
Mahmud Abbas Desak PBB Mengadakan Gencatan Senjata
-----------------
Musik
Gitaris The Stooges Meninggal Dunia
-----------------
Sepakbola
Arsenal Inginkan Arshavin
-----------------
Saham
Indeks Saham Berpeluang Kembali Menguat
-----------------

Custom Search