Cina Turun Tangan Redam Krisis
JAKARTA -- Cina berjanji membantu upaya menghadang badai krisis keuangan global yang telah menjalar dari Amerika Serikat ke Eropa.
Juru bicara bank sentral Cina, Li Chao, kepada kantor berita Xinhua kemarin menuturkan bahwa negeri dengan cadangan devisa terbesar di dunia ini akan bergabung dengan organisasi keuangan internasional untuk menstabilkan pasar.
Janji itu disampaikan Li sehubungan dengan pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral tujuh negara industri maju (G-7) di Washington, Amerika Serikat, Jumat lalu. "Kami sedang berkoordinasi dengan Cina, Jepang, dan investor lain di seluruh dunia," kata Paulson dalam konferensi pers.
Hingga Jumat lalu, gejolak pasar global tak kunjung reda. Di bursa Wall Street, New York, indeks saham Dow Jones Industrial Average kembali merosot 128 poin (1,49 persen). Inilah penurunan indeks mingguan terbesar sepanjang sejarah. Selama delapan hari berturut-turut, indeks anjlok hampir 2.400 poin. Kerugian investor sejak tahun lalu ditaksir mencapai US$ 8,4 triliun.
Kemerosotan juga terjadi pada indeks FTSE 100 di bursa London (8,9 persen), Nikkei-225 di Tokyo (9,6 persen), dan CAC-40 di Paris (10,6 persen).
Presiden Amerika George Bush, Sabtu pagi, langsung mengundang Paulson dan gubernur bank sentral Amerika Ben Bernanke serta para koleganya dari negara-negara G-7 ke Gedung Putih untuk membahas persoalan ini.
Malamnya, Paulson mengadakan pertemuan dengan kelompok yang lebih besar, terdiri atas 20 negara, termasuk Cina, Brasil, dan India, yang merupakan negara-negara berkembang termakmur di dunia saat ini.
Peran Cina dianggap penting karena cadangan devisanya kini yang terbesar di dunia, yaitu US$ 1,8 triliun atau sekitar Rp 17 ribu triliun. Bersama Jepang, Negeri Panda ini pun merupakan pemegang surat utang terbanyak yang dikeluarkan pemerintah Amerika.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan 9 persen tahun depan, sejumlah analis memperkirakan Cina akan menjadi motor utama ekonomi dunia di kala beberapa negara maju diterkam resesi. Agar gerak perekonomiannya tetap lincah, Cina pun, Rabu lalu, mengikuti jejak Amerika dan Eropa memangkas suku bunganya 0,27 persen.
Li mengakui perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia telah mengurangi ekspornya dan mempengaruhi ekonomi Cina. Meski begitu, pemerintah Cina percaya negeri itu akan lolos dari krisis. "Kami punya pasar domestik yang besar dan likuiditas melimpah," ujarnya. "Sepanjang kami dapat mendorong permintaan domestik, ekonomi tetap berpotensi tumbuh."
Juru bicara Departemen Luar Negeri Cina, Qin Gang, menyerukan agar komunitas internasional menjaga kepercayaan dan bergandeng tangan mengatasi kesulitan.
Sebagai bagian dari upaya itu, Pertemuan G-7 yang beranggotakan Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika telah menghasilkan sejumlah rencana aksi menghadang krisis, antara lain memecah kebekuan kredit dan menjamin bank serta institusi keuangan lainnya memiliki akses luas terhadap likuiditas.
Paulson pun mengumumkan Amerika akan secepat mungkin menyuntikkan modal ke bank-bank bermasalah sebagai bagian dari dana talangan US$ 700 miliar. AFP | AP | BLOOMBERG | EFRI RITONGA | METTA